KALENG DALAM PENGEMASAN
Pengemasan merupakan sistem yang terkoordinasi untuk menyiapkan barang menjadi siap untuk
ditransportasikan, didistribusikan, disimpan, dijual, dan
dipakai. Adanya wadah atau pembungkus dapat membantu mencegah atau mengurangi
kerusakan, melindungi produk yang ada di dalamnya,
melindungi dari bahaya pencemaran serta gangguan fisik (gesekan, benturan, getaran). Di samping itu
pengemasan berfungsi untuk menempatkan suatu hasil pengolahan
atau produk industri agar mempunyai
bentuk-bentuk yang memudahkan dalam penyimpanan,
pengangkutan dan distribusi. Dari segi promosi wadah
atau pembungkus berfungsi sebagai perangsang atau daya tarik pembeli. Karena
itu bentuk, warna dan dekorasi dari kemasan perlu diperhatikan dalam
perencanaannya.
Budaya kemasan sebenarnya telah dimulai
sejak manusia mengenal sistem penyimpanan bahan makanan. Sistem penyimpanan
bahan makanan secara tradisional diawali dengan memasukkan bahan makanan ke
dalam suatu wadah yang ditemuinya. Dalam perkembangannya di bidang pascapanen, sudah banyak inovasi
dalam bentuk maupun bahan pengemas produk pertanian. Temuan kemasan baru dan berbagai inovasi selalu dikedepankan
oleh para produsen produk-produk pertanian, dan hal ini secara pasti menggeser
metode pengemasan tradisional yang sudah ada sejak lama di Indonesia.
Kaleng adalah lembaran baja yang disalut timah. Bagi orang awam, kaleng sering diartikan sebagai tempat penyimpanan atau wadah yang terbuat dari logam dan digunakan untuk mengemas makanan, minuman, atau produk lain. Dalam
pengertian ini, kaleng juga termasuk wadah yang terbuat dari aluminium.
Kaleng timah (tin can) merupakan
pengembangan dari penemuan Nicolas Appert pada dasawarsa 1800-an. Produk ini dipatenkan
oleh seorang berkebangsaan Inggris, Peter Durand
pada 1810. Berkat penemuan produksi massal,
pada akhir abad ke-19, kaleng timah menjadi
standar produk konsumen. Timah dipilih karena relatif tidak beracun dan menambah
daya tarik kemasan karena berkilat dan tahan karat.
Jenis lapisan enamel di bagian
dalam kaleng dipengaruhi oleh karakteritis dari produk yang dikemas atau
dikalengkan.Adapun jenis produk yang dikalengkan dikategorikan
menjadi 3 yaitu ;
- Makanan ( Olahan, Buah dan Kering ) )
- Minuman ( Minuman ringan, Jus & Bir )
- Bahan kimia ( General )
Jenis yang beraneka ragam dan
sifat atau karakteritis dari masing masing bahan yang akan dikemas didalam
kaleng , secara langsung akan berpengaruh terhadap spesifikasi dari kaleng yang
dipergunakan.
Berikut ini adalah beberapa jenis bahan makanan
yang biasa di kalengkan;
·
Hasil
laut
: Ikan Tuna, Sardine, Kepiting dan Udang.
·
Hasil
pertanian :
Jamur, Asparagus, Jagung, Kacang merah, Kapri.
·
Hasil
perkebunan : Nanas,
Jeruk, Apel, Anggur, Tomat, Wortel.
·
Hasil
peternakan ; Daging sapi,
Daging babi, Daging ayam, Keong racun
Kini
semakin banyak makanan dan minuman yang dikemas dalam kaleng. Umumnya produk
yang dikemas dalam kaleng akan hilang kesegarannya, juga nilai gizi turun
akibat pengolahan dengan suhu tinggi.
Pada
pemakaiannya, kaleng harus dilapisi timah putih (Sn) dengan sistem pelapisan
sangat ketat dan tidak boleh ada lubang pori sekecil apa pun. Kaleng (template)
ini harus dilapisi lagi dengan enamel bila akan digunakan untuk makanan yang
mudah menimbulkan korosi (karat). bahaya utama makanan kaleng yaitu tumbuhnya Clostridium botulinum yang
dapat menyebabkan keracunan botulinin.
Tanda-tanda
keracunan botulinin
antara lain tenggorokan menjadi kaku, mata berkunang-kunang dan kejang-kejang
yang membawa kematian karena sukar bernapas. Biasanya bakteri ini tumbuh pada
makanan kaleng yang tidak sempurna pengolahannya atau pada kaleng yang bocor
sehingga makanan di dalamnya terkontaminasi udara dari luar.
Cermat
memilih kaleng kemasan merupakan suatu upaya untuk menghindari bahaya-bahaya
yang tidak diinginkan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar