Minggu, 09 November 2014

Contoh Tugas Sejarah Kelas X Tentang Sejarah Aksara dan Pra aksara




Nama    : Salsabilla
Kelas     : X-IPS
Tugas    : Sejarah (Sejarah pra aksara dan aksara di dareah tempat tinggal)

  1. Sejarah pra aksara
Di daerah Mangopoh, Lubuk Basung, Agam terdapat sebuah tempat aliran air yang cukup lebar biasa di sebut ‘banda’ oleh masyarakat minang. Di bagian banda tersebut terdapat bagian yang airnya selalu berwarna merah. Anehnya dialiran selanjutnya air banda itu kembali bening seperti air pada umumnya baik aliran sebelum atau sesudah bagian banda tersebut. Banda itu dinamakan banda sirah.
Konon katanya, ada suatu asal usul yang sudah diketahui turun temurun oleh masyarakat sekitar. Berdasarkan sumber yang di dapat dari masyarakat sekitar, banda tersebut terbentuk dari suatu kejadian di masa lalu.
“Dahulu ada seorang gadis yang cantik jelita yang ingin melaksanakan pernikahan. Sifat gadis itu tak sebanding dengan kecantikannya. Anak itu tak memperlakukan ibu semata wayangnya dengan baik. Ibunya berserta rombangan pernikahan membawa ‘jamba’ (hidangan) yang akan dibawa ke rumah mempelai pria. Dia membiarkan saja ibunya membawa 1 kendi gula merah cair atau ‘saka’ yang lumayan berat.Mendengar para rombongan tak suka cara dia memperlakukan ibunya, dia pun mengambil kendi gula merah itu secara kasar sambil berbisik “dasar tua” kepada ibunya tersebut. Kendi itu pun dia jujung di atas kepalanya.
Karena ibunya tak terima dengan perlakuan anaknya itu, dia memohon kepada Tuhan agar anak gadisnya itu dihukum. Tiba tiba saja anak gadis itu oleng dan jatuh kedalam ‘banda’ yang lumayan dalam dengan air yang deras bersama kendi berisi gula merah cair itu. Isi kendi itu menyeruak dan menciptakan warna air yang kemerah-merahan. Anak gadis itu hilang entah kemana dan akhirnya sang ibu menangis dengan penyesalan.” Tutur Ibu Gadis Ranti, salah satu warga mangopoh yang memberi informasi ini.

  1. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOpvXHh47s9YqzBX8YhtAhUptO7L8WeiYLgxpzoetQW9BbWEce-MoGz1mjo8-cKXlXbavAk_owQJ7l9FPPqAJypSimt-YETRmwA9zOOw3x153YbCAskI39NNcGpW0Pr973Ke71sQwhCeFZ/s1600/Patung+Siti+Manggopoh.JPGSejarah Aksara
Siti Manggopoh adalah wanita pejuang yang berasal dari Manggopoh, kecamatan Lubuk Basung, Kab. Agam. Ia biasanya dipanggil dengan Mande Siti. Kapan ia lahir, tidak ada yang tahu. Namun diperkirakan ia lahir pada tahun 1885. ia dijuluki “Singa Betina Dari Manggopoh”. Ia populer karena keberanian dan kegigihannya dalam melawan penjajahan pemerintah kolonial di Minangkabau. Perlawanan yang ia lakukan dalam sejarah lokal Sumatera Barat dikenal dengan perang Manggopoh. Perang ini lahir akibat kebijakan belasting yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap rakyat Minangkabau.

Siti Manggopoh adalah anak bungsu dari enam bersaudara. Masa kecilnya ia habiskan di surau. Ia mempelajari agama Islam dengan seorang guru yang berasal dari Padang. Di surau-lah semangat anti imperialisme timbul. Ia sangat membenci penjajahan. Siti Manggopoh menikah dengan Rasyid karena memiliki visi yang sama yaitu mengusir penjajahan dari bumi Minangkabau. Selain disetujui oleh pihak keluarga, ia juga memandang bahwa Rasyid-lah lelaki yang tepat dalam mendampinginya dalam berjuang.
Puncak perlawanan Siti Manggopoh dan rakyat Manggopoh adalah pada tanggal 16 Juni 1908. Dalam aksi tersebut, Mande Siti masuk dan menyamar sebagai wanita penghibur. Saat para plajurit belanda mabuk, siti melancarakan aksi pembunuhan kepada mereka dan di ikuti oleh rakyat mangopoh lainya. Sayangnya, seorang serdadu Belanda selamat dan berhasil melihat Mande Siti dan rakyat Menggopoh melakukan aksi penyerangan. Keesokan harinya Mande Siti dan suaminya dicari oleh prajurit Belanda. Setelah 17 hari mengejarnya, Mande Siti dan suaminya menyerahkan diri kepada Belanda.
Belanda langsung memasukkan Mande Siti dan Suaminya ke penjara secara terpisah. Sebelum menerima keputusan pengadilan, Mande Siti dan Suaminya mendekam dipenjara selama 14 bulan di penjara di Lubuk Basung, 16 bulan di Pariaman dan 12 bulan di Padang. Setelah dua kali di sidang akhirnya Mande Siti dijatuhi hukuman dibuang seumur hidup. Tetapi karena lain hal, akhirnya hukuman tersebut dibatalkan. Namun, suami Mande Siti, Rasyid divonis hukuman dibuang ke Menado. Akibatnya Mande Siti dan Rasyid jadi hidup berpisah. Akhirnya Rasyid meninggal di Tondano.
Mande Siti masih sempat menikmati alam kemerdekaan yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Sayangnya, ketika itu banyak orang yang lupa akan jasa perjuangan Mande Siti. Baru pada tahun 1957, orang mulai mengingat akan perjuangan heroik Mande Siti. Pemerintah Sumatera Tengah yang beribukota di Bukittinggi mengirim satu tim ke Lubuk Basung dan memberikan bantuan ala kadarnya. Mande Siti merasa senang. Bantuan yang ia terima dijadikannya sebagai modal untuk membuka warung kecil di depan rumahnya.
Pada tahun 1964, Menteri Sosial mengeluarkan Sk tertanggal 17 November 1964 No. Pal. 1379/64/P.K yang isinya menyatakan bahwa Mande Siti berhak menerima tunjangan atas jasa kepahlawanannya sebesar Rp 850,-. Tetapi entah kenapa Mande Siti hanya sekali saja menerima tunjangan tersebut. Dalam usia 80 tahun, Mande Siti meninggal dunia. Ia meninggal dengan tenang dirumah cucunya dikampung Gasan dan ia dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Lolong, Padang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar