Nama : Salsabilla
Kelas : X-IPS
Tugas : Sejarah (Sejarah pra
aksara dan aksara di dareah tempat tinggal)
- Sejarah pra aksara
Di daerah Mangopoh, Lubuk
Basung, Agam terdapat sebuah tempat aliran air yang cukup lebar biasa di sebut
‘banda’ oleh masyarakat minang. Di bagian banda tersebut terdapat bagian yang
airnya selalu berwarna merah. Anehnya dialiran selanjutnya air banda itu kembali
bening seperti air pada umumnya baik aliran sebelum atau sesudah bagian banda
tersebut. Banda itu dinamakan banda sirah.
Konon katanya, ada suatu asal
usul yang sudah diketahui turun temurun oleh masyarakat sekitar. Berdasarkan
sumber yang di dapat dari masyarakat sekitar, banda tersebut terbentuk dari
suatu kejadian di masa lalu.
“Dahulu ada seorang gadis yang
cantik jelita yang ingin melaksanakan pernikahan. Sifat gadis itu tak sebanding
dengan kecantikannya. Anak itu tak memperlakukan ibu semata wayangnya dengan
baik. Ibunya berserta rombangan pernikahan membawa ‘jamba’ (hidangan) yang akan
dibawa ke rumah mempelai pria. Dia membiarkan saja ibunya membawa 1 kendi gula
merah cair atau ‘saka’ yang lumayan berat.Mendengar para rombongan tak suka cara
dia memperlakukan ibunya, dia pun mengambil kendi gula merah itu secara kasar
sambil berbisik “dasar tua” kepada ibunya tersebut. Kendi itu pun dia jujung di
atas kepalanya.
Karena ibunya tak terima
dengan perlakuan anaknya itu, dia memohon kepada Tuhan agar anak gadisnya itu
dihukum. Tiba tiba saja anak gadis itu oleng dan jatuh kedalam ‘banda’ yang
lumayan dalam dengan air yang deras bersama kendi berisi gula merah cair itu.
Isi kendi itu menyeruak dan menciptakan warna air yang kemerah-merahan. Anak
gadis itu hilang entah kemana dan akhirnya sang ibu menangis dengan
penyesalan.” Tutur Ibu Gadis Ranti, salah satu warga mangopoh yang memberi
informasi ini.
Siti Manggopoh adalah wanita pejuang yang berasal dari Manggopoh,
kecamatan Lubuk Basung, Kab. Agam. Ia biasanya dipanggil dengan Mande Siti.
Kapan ia lahir, tidak ada yang tahu. Namun diperkirakan ia lahir pada tahun
1885. ia dijuluki “Singa Betina Dari Manggopoh”. Ia populer karena keberanian
dan kegigihannya dalam melawan penjajahan pemerintah kolonial di Minangkabau. Perlawanan yang ia lakukan dalam sejarah lokal
Sumatera Barat dikenal dengan perang Manggopoh. Perang ini lahir akibat
kebijakan belasting yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap
rakyat Minangkabau.
Siti Manggopoh adalah anak
bungsu dari enam bersaudara. Masa kecilnya ia habiskan di surau. Ia mempelajari
agama Islam dengan seorang guru yang berasal dari Padang. Di surau-lah semangat
anti imperialisme timbul. Ia sangat membenci penjajahan. Siti Manggopoh menikah
dengan Rasyid karena memiliki visi yang sama yaitu mengusir penjajahan dari
bumi Minangkabau. Selain disetujui oleh pihak keluarga, ia juga memandang bahwa
Rasyid-lah lelaki yang tepat dalam mendampinginya dalam berjuang.
Puncak perlawanan Siti Manggopoh
dan rakyat Manggopoh adalah pada tanggal 16 Juni 1908. Dalam aksi tersebut,
Mande Siti masuk dan menyamar sebagai wanita penghibur. Saat para plajurit
belanda mabuk, siti melancarakan aksi pembunuhan kepada mereka dan di ikuti
oleh rakyat mangopoh lainya. Sayangnya, seorang serdadu Belanda selamat dan
berhasil melihat Mande Siti dan rakyat Menggopoh melakukan aksi penyerangan.
Keesokan harinya Mande Siti dan suaminya dicari oleh prajurit Belanda. Setelah
17 hari mengejarnya, Mande Siti dan suaminya menyerahkan diri kepada Belanda.
Belanda langsung memasukkan
Mande Siti dan Suaminya ke penjara secara terpisah. Sebelum menerima keputusan
pengadilan, Mande Siti dan Suaminya mendekam dipenjara selama 14 bulan di
penjara di Lubuk Basung, 16 bulan di Pariaman dan 12 bulan di Padang. Setelah
dua kali di sidang akhirnya Mande Siti dijatuhi hukuman dibuang seumur hidup.
Tetapi karena lain hal, akhirnya hukuman tersebut dibatalkan. Namun, suami
Mande Siti, Rasyid divonis hukuman dibuang ke Menado. Akibatnya Mande Siti dan
Rasyid jadi hidup berpisah. Akhirnya Rasyid meninggal di Tondano.
Mande Siti masih sempat
menikmati alam kemerdekaan yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Sayangnya, ketika itu banyak orang yang lupa akan jasa perjuangan Mande Siti. Baru
pada tahun 1957, orang mulai mengingat akan perjuangan heroik Mande Siti.
Pemerintah Sumatera Tengah yang beribukota di Bukittinggi mengirim satu tim ke
Lubuk Basung dan memberikan bantuan ala kadarnya. Mande Siti merasa senang.
Bantuan yang ia terima dijadikannya sebagai modal untuk membuka warung kecil di
depan rumahnya.
Pada tahun 1964, Menteri
Sosial mengeluarkan Sk tertanggal 17 November 1964 No. Pal. 1379/64/P.K yang
isinya menyatakan bahwa Mande Siti berhak menerima tunjangan atas jasa
kepahlawanannya sebesar Rp 850,-. Tetapi entah kenapa Mande Siti hanya sekali
saja menerima tunjangan tersebut. Dalam usia 80 tahun, Mande Siti meninggal
dunia. Ia meninggal dengan tenang dirumah cucunya dikampung Gasan dan ia
dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Lolong, Padang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar